Jumat, Desember 12, 2014

Terperangkap oleh Jebakan Sendiri

Abis baca berita di bawah ini, gue ngakak deh. Yuk baca dulu (sumur):

Pemerintah akan Terapkan Skema ISAK dalam Pengembangan Pembangkit


December 11, 2014 @ 3:07 pm

Pemerintah-akan-Terapkan-Skema-ISAK-dalam-Pengembangan-Pembangkit,-galis-energitoday

Jakarta, EnergiToday -- Rencananya Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menerapkan ISAK (Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan), untuk itu kewajiban listrik swasta/IPP secara akuntansi menjadi kewajiban PLN.

Hal tersebut seperti yang dipaparkan oleh Kasubdit Standarisasi Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu dalam acara CCHP Energy Summit Combined Cooling, Heating & Power for Business in Indonesia, di Hotel JW Mariot, Jakarta, Kamis (11/12).

Jisman menegaskan, perjanjian PPA (power Purcashe Agreement) dengan IPP (Indonesian Power Producer) termasuk suatu perjanjian yang mengandung suatu sewa, sehingga berimplikasi memburuknya kondisi keuangan PLN termasuk Debt Service Coverage Ratio (DSCR) dan Consolidated Interest Coverage Ratio (CICR) serta rasio keuangan lainnya.

“Maka diperlukan langkah-langkah antara lain memberikan kesempatan kepada pihak ketiga (model non-IPP) untuk berpartisipasi dalam pembangunan pembangkit serta memasok industri agar PLN tidak menjadi satu-satunya off-taker sepenuhnya, misalnya melalui skema power wheeling, dan penetapan wilayah usaha tersendiri,” katanya.

Dirinya mengungkapkan, dengan model bisnis seperti ini maka investasi yang dilakukan oleh pihak ketiga (model non - IPP) tidak akan membebani keuangan PLN secara jangka panjang.

Skema yang akan diterapkan pemerintah yakni skema power wheeling, dimana pemegang Izin Operasi (IO) sebagai pemilik captive power menyewa transmisi PLN atau PPU lain untuk menyalurkan tenaga listrik yang dibangun ke perusahaan sendiri di lokasi yang berbeda (sebagai contoh: pabrik/industri).

Selain itu, tambahnya, pemegang IUPL yang memiliki wilayah usaha menyewa transmisi PLN/PPU untuk menyalurkan tenaga listrik yang dibangun di luar wilayah usahanya, atau membeli dari perusahaan lain di luar wilayah usahanya (IPP/PLN/PPU/excess) melalui sewa jaringan PLN/PPU.   [us]

Cerita dikit oleh seorang akuntan ngawur ahli: jadi ceritanya ini kejadian nyangkut di PSAK Sewa (aduh lupa.....kayaknya 30).

Dalam beberapa skema, PLN ini tidak selalu mempunyai pembangkit sendiri. Doi bekerja sama dengan perusahan pembangkit lain (baik anak perusahaan maupun non-affiliated). Biar keren, kita sebut dengan "IPP" yah. Nah dalam kegiatan operasinya PLN ini, hampir seluruh listrik yang diproduksi si IPP ini dibeli sama PLN. Selain itu, dalam waktu panjang (bisa dibilang seluruh hidup si IPP ini) bakalan cuma PLN yang beli listriknya. Nah, kalau melihat dua unsur ini, si PLN bakalan kena klausuk ISAK 8 juncto PSAK 30 (sok keren) mengenai sewa yang sebenarnya dianggap beli pake cara nyicil. 

Karena dianggap beli pake cara nyicil itu, berarti aset si IPP ini sebenarnya adalah aset PLN (secara defacto pake kacamata akuntansi). Dapet tambahan aset sih Alhamdulillah vroh, tapi cilakanya doi juga bakalan dapet tambahan utang (yoo, inget rumus wajib ini: aset=utang+modal). Nah karena si utang ini nambah makanya doi kelabakan karena rasio-rasio keuangan doi jadi berantakan. Nah rasio ini kan berhubungan banyak ya, terutama yg paling malesin kalau udah urusan sama klausul kontrak utang karena banyak kontrak utang yang mensyaratkan rasio debt maksimal di angka tertentu. Kalo si utang IPP ini muncul, nah otomatis bisa tembus tuh rasio-rasio dan bisa di-sue. Makanya doi kelabakan sampe (mungkin?) ngerombak proses bisnis.

Nah masalah ini yang bikin gue ketawa yah. Aneh gak kalau akhirnya kita kelabakan sama peraturan yang kita bikin sendiri? Itu ISAK dan PSAK kan kita yang bikin sendiri, oleh kita, dan untuk diterapkan di negara kita. Kenapa malah kita yang repot?

Behind the scene, ISAK dan PSAK itu emang dibikin dengan mentranslate mengadopsi IAS dan IFRS yang standarnya harus diterapkan karena kita pengen dibilang gaul dan elit karena ikut-ikutan bule sudah diakui secara global.

Dalam dunia akuntansi yang mana gue pernah kuliah, gue pernah baca buku yang di dalamnya ada satu pemikiran yang baru sekarang gue mengerti. Pemikiran itu adalah berilmu dan penerapannya itu ya harus sesuai dengan kondisi negara kita (ya kurang lebih gitu lah ya vroh :D). Dulu gue sih ga ngerti maksudnya apa karena melihat sebuah ilmu (dan aplikasinya) as it is. Ilmunya begitu dan penerapannya cuma begitu (paling ga dalam akuntansi). Pernahkah kah terpikir bahwa dalam paralel universe ada akuntansi yang debit-kredit-dedit gitu misalnya, ga cuma berpasangan debit dan kredit doang.

Nah itu baru gue ngerti pas ada kejadian-kejadian seperti ini. Ternyata mungkin ISAK dan PSAK itu ndak cocok di kita dengan berbagai alasan yang logis dan nyata, sehingga penerapan ISAK dan PSAK yang cuma biar dibilang go global berstandar internasional itu perlu ditinjau lagi. Jangan biar kita dibilang go global berstandar internasionaltapi malah nyusahin diri sendiri.

Poinnya, kemandirian berilmu itu menjadi hal penting untuk mewujudkan kemandirian kita sendiri. Dengan kemandirian berilmu, misalnya, kita bisa membuat peraturan yang cocok di kita sendiri. Tapi lebih utama lagi, kita tau Indonesia mau diapakan dan menjadi apa, ndak cuma always one step behind negara-negara bule mulu. Capek vroh (bahkan useless) mengejar ketertinggalan dimana terminologi ketertinggalan itu kita sendiri yang bikin. Gila kan? Kita yang setting target, kita yang pontang-panting utang sana sini cuma untuk mengejar ketertinggalan. Padahal kita tertinggal untuk hal-hal yang kita sendiri kadang ndak tau butuh atau tidak, penting atau tidak, apalagi cocok atau tidak.

Pernahkah terpikir, apakah kita memang tertinggal? Memangnya apa parameter tertinggal itu? Pernahkah kita mengeset apa tujuan hidup kita? Ingin makmur, cukup makan-cukup minum, hidup nyaman ndak perlu mewah, alam ijo-royo-royo ndak perlu gedung bertingkat, nyaman nyepeda tanpa perlu mobil mewah apakah ndak cukup untuk menjadi target? Atau jangan-jangan target kita memang untuk selalu tertinggal? Karena target yang kita lihat dari negara-negara bule itu perwujudan dari rencana mereka beberapa dekade lalu. Lha gimana mau sama, mereka merencanakan berdekade lalu untuk menjadi seperti sekarang sedangkan dekade saat ini, kita pakai untuk merencanakan perwujudan mereka saat ini. #mbulet rek

Note: cerita ini fiksi, dan tidak dijamin unsur kebenaran di dalamnya. Mohon tidak dibaca apalagi dipercaya. Lebih nista lagi kalau dijadikan rujukan. Kalau mau yang kerenan baca ini aja yah.

Tidak ada komentar: